Sabtu, 31 Desember 2022

Pandemi Berakhir? (Penerima BLT sisa 10%), 2023 Saatnya Pemdes Fokus Program Pemberdayaan dan Pembangunan di Balassuka

Pemerintah Desa, BPD bersama penerima BLT

Kemarin (30/12) saya bersama pemerintah Desa Balassuka melaksanakan musyawarah penetapan kelompok Penerima Manfaat (KPM) Bantuan Langsung Tunai (BLT) Dana Desa untuk APBDes tahun 2023.

Dalam musyawarah ini, kami membahas soal batas minimum dan maksimal penerima BLT. Dari hasil musyawarah ini, kita telah menyepakati 10% batas minimum dari batas maksimum 25% kelompok penerima manfaat KPM untuk tahun anggaran 2023. Penetapan KPM 10% ini otomatis akan mengurangi jumlah penerima, yang tahun lalu sebanyak 40% dengan jumlah penerima 135 penerima manfaat. Sedangkan tahun 2023 hanya 10% dengan jumlah penerima lebih sedikit dari sebelumnya. 

Pengurangan jumlah penerima BLT ini berdasarkan peraturan Kemenkeu tentang Pengelolaan Dana Desa nomor 201/PMK.07/2022, yang menjadi dasar bagi pemerintah Desa menganggarkan Dana Desa dalam APBDes tahun anggaran 2023.

Saya melihat bahwa penerima BLT secara personalia selama pandemi covid-19 ini cukup membantu dan meringankan beban hidup masyarakat. Namun disisi lain belum bisa dirasakan secara kolektif karena ikut berdampak pada pengurangan anggaran program perioritas pemberdayaan dan pembangunan yang bersumber dari Dana Desa. 
Penetapan KPM 10% BLT APBDes 2023, (Jum'at, 30/12/2022)
Selama ini 40% APBDes Desa Balassuka kita arahkan kepada BLT. Soal-soal siapa penerima BLT setiap saat jadi polemik yang tidak sedikit menimbulkan perdebatan serta gejolak baik dikalangan pemerintah begitupun di masyarakat. Makanya penetapan 10% KPM BLT ini merupakan upaya mempresur lebih sedikit jumlah penerima. Supaya tidak banyak lagi bercekcok hanya karena BLT, juga otomatis mengurangi great angka kemiskinan sesuai standar kemensos. 

Peserta Musyawarah Desa (Musdes)
Selain itu, ini merupakan langkah produktif untuk memulihkan kembali program yang lain. Pemerintah desa akan bisa lebih fokus pada program pemberdayaan dan pembangunan yang berorientasi pada asas kebermanfaatan secara kolektif, keadilan dan kesejahteraan masyarakat.

Kita berharap diakhir tahun ini, dan mengawali tahun baru 2023. Pandemi ini segera berakhir, tidak ada lagi pembatasan sosial yang membatasi ruang gerak masyarakat. Sehingga keadaan secepatnya bisa kembali normal, sektor pendidikan, ekonomi, pertanian bisa berjalan stabil dan lebih maju. Dalam kondisi yang ideal dan normal, pemerintah bersama BPD akan bisa berinovasi secara kreatif, melakukan hal baru dan loncatan besar dengan jumlah anggaran yang besar. Itu semua bisa kita lakukan dengan kerjasama dan dukungan semua stakeholder memajukan Desa Balassuka.

Ikhwan, Wakil Ketua BPD Desa Balassuka

Jumat, 16 Desember 2022

Pulau Sembilan, Spot Wisata Eksotis Menyimpan Nuansa Ketenangan

Sedang diatas kapal, menuju pulau sembilan

Kemarin saya mengunjungi pulau Sembilan, Kab. Sinjai bersama dengan teman-teman Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Kab. Sinjai. Bagi saya Ini merupakan agenda refresing setelah mengikuti pelantikan dan rakerpim DPD IMM Sulsel di Kota Pare-pare pada akhir bulan lalu, kemudian bertugas menjadi instruktur IMM di Kab. Bulukumba dan Kab. Sinjai Kurang lebih dua pekan secara berturut-turut.


Ini yang pertama kalinya saya berkunjung di Pulau yang berada di Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan. Untuk sampai pada salah satu pulau Sembilan, kami difasilitasi oleh Immawan Aqram (PC IMM Sinjai) menggunakan kapal milik bapaknya di pelabuhan Cappa Ujung. Untuk sampai di Pulau Sembilan ada dua pilihan bisa ditempuh, kapal penumpang yang  menempuh jarak kurang lebih 60 menit dan speed boat kurang lebih 20 menit perjalanan.

 

Bagi saya yang lahir dan besar dipegunungan, ini merupakan hal baru. Walaupun sebenarnya sudah pernah naik kapal laut beberapa tahun lalu, tapi nuansa dan momentnya agak berbeda. Ditengah laut, saya menikmati pemandangan yang indah, dari jarak kejauhan saya menyaksikan gunung-gunung berjejeran di daerah Bone, Bulukumba, serta pegunungan yang ada ditempat saya Kab. Gowa. Daerah tetangga dengan Kab. Sinjai. Maha besar Tuhan dengan segala ciptaannya.

Setelah kurang lebih 60 menit perjalanan, kami tiba dikawasan pulau Sembilan. Namanya pulau Kanalo II Desa Persatuan. Kebutulan ada salah satu senior IMM Sinjai yang tinggal di Pulau ini, disinilah kami istrahat dan bermalam. Pulau yang tenang, jauh dari suara kendaraan yang ribut seperti halnya di Kota. Disini tidak satupun kendaraan (motor dan mobil) yang lalu Lalang. Anda mungkin bisa membayangkan bagaimana nuansanya yah. Untuk berkunjung kerumah tetangga dan dermaga, cukup dengan jalan kaki. Masyarakat disini adalah mayoritas nelayan, sumber kehidupannya ada pada laut. Ada juga Instansi pemerintahan (kantor desa), beberapa pelaku UMKM. Untuk kebutuhan hidup seperti beras dan kebutuhan hidup lainnya sumbernya dari Kota yang dibawa oleh kapal laut dengan waktu tertentu.

Pulau Sembilan ini merupakan salah satu kecamatan di Kab. Sinjai, yang terdiri dari empat Desa, yakni Desa Buhung Pitue, Desa Pulau Harapan, Desa Padaelo, dan Desa Pulau Persatuan. Sesuai namanya, Pulau Sembilan Sinjai terdiri atas sembilan pulau. Pulau Sembilan ini memiliki nama lain, diantaranya adalah pulau Kanalo I, Pulau Kanalo II, Pulau Larearea, Pulau Kodingare, Pulau Batanglampe, Pulau Katingodang, Pulau Liang Liang, Pulau Kambuno, dan juga Pulau Burunglo’e.

Suasana pulau sembilan

Pulau Larearea salah satu pulau yang kami kunjungi , ini adalah satu pulau  yang tidak berpenghuni. Pulau ini memiliki air yang jernih, pasir putih dan tentunya pemandangan pantai yang eksotis. Ada berbagai spot wisata yang bisa menjadi pilihan saat mengunjungi Pulau ini. Nuansanya begitu tenang. Saya begtu menikmati perjalanan ini. Walapun tidak semua pulau saya kunjungi, namun saya yakin bahwa disetip pulau punya keanekaragaman yang tidak kalah menarik. Yang pasti, tidak sekedar refresing. Namun ada hal-hal baru dan pelajaran yang berarti yang saya temukan. Gowa, 16/12/2022.

Senin, 30 Mei 2022

Bukan Tentang Usia Yang Sekian Lama, Tapi Tentang Kualitas Diri Seperti Apa Ia Berkontribusi dan Bermanfaat


Milad saya pada hari ini, usia 26 tahun. Merupakan sebuah renungan tentang waktu yang telah berlalu sekian lama. Terlalu banyak kemudian fase hidup yang telah dilalui dengan berbagai dinamikinya. Yang pasti, saya menyadari bahwa bertambahnya usia berarti jatah hidup yang diberikan oleh Tuhan pun semakin berkurang. Ia bagaikan tali yang ditarik, semakin ia ditarik maka ia semakin berkurang.

Ketika saya kembali merenungi roda kehidupan yang ku lalui, saya ternyata belum mampu mengenali siapa diriku yang sebenarnya, saya belum begitu berarti, sosok saya belum bisa berbuat yang terbaik kepada kedua orang tuaku, guru dan sahabat-sahabatku.

Saya yakin bahwa sejak masih dalam kandungan Ibuku, kedua orang tua ku sangat mendambakan dan merindukan kelahiranku. Mereka pasti sangat bahagia ketika saya lahir dalam keadaan sehat, normal, dan selamat. Baginya, saya adalah mutiara baru yang lahir mendamaikan hatinya dihari itu. Saya berharap dambaan tentang sosok diriku yang lahir dan tumbuh dewasa adalah sesuatu yang mendamaikan keluargaku hari ini seperti ketika saya dilahirkan dua pulu tahun silam. Upayahku adalah menjadi anak yang berbakti, berakidah yang baik, serta mampu bermanfaat kepada sesama.

Jadi bukan tentang usiaku yang sekian lama, tetapi tentang kualitas diri yang sejauh mana ia berkontribusi dan bermanfaat. Dan diriku yang ternyata masih “biasa saja”, sekedar mengikuti ritme tanpa membenah diri. Renungilah itu semua ditengah usiamu hari ini. . .



Kepada semua, terimakasih atas motivasi dan do’a terbaiknya.

Benteng Balangnipa, Sinjai, (30 Mei 2022)

 


Jatah Hidup, Ia Bagaikan Tali Yang Ditarik. Semakin Ia Ditarik Maka Ia Semakin Berkurang

Milad saya pada hari ini, usia 26 tahun. Merupakan sebuah renungan tentang waktu yang telah berlalu sekian lama. Terlalu banyak kemudian fase hidup yang telah dilalui dengan berbagai dinamikinya. Yang pasti, saya menyadari bahwa bertambahnya usia berarti jatah hidup yang diberikan oleh Tuhan pun semakin berkurang. Ia bagaikan tali yang ditarik, semakin ia ditarik maka ia semakin berkurang.

Ketika saya kembali merenungi roda kehidupan yang ku lalui, saya ternyata belum mampu mengenali siapa diriku yang sebenarnya, saya belum begitu berarti, sosok saya belum bisa berbuat yang terbaik kepada kedua orang tuaku, guru dan sahabat-sahabatku.

Saya yakin bahwa sejak masih dalam kandungan Ibuku, kedua orang tua ku sangat mendambakan dan merindukan kelahiranku. Mereka pasti sangat bahagia ketika saya lahir dalam keadaan sehat, normal, dan selamat. Baginya, saya adalah mutiara baru yang lahir mendamaikan hatinya dihari itu. Saya berharap dambaan tentang sosok diriku yang lahir dan tumbuh dewasa adalah sesuatu yang mendamaikan keluargaku hari ini seperti ketika saya dilahirkan dua pulu tahun silam. Upayahku adalah menjadi anak yang berbakti, berakidah yang baik, serta mampu bermanfaat kepada sesama.

Jadi bukan tentang usiaku yang sekian lama, tetapi tentang kualitas diri yang sejauh mana ia berkontribusi dan bermanfaat. Dan diriku yang ternyata masih “biasa saja”, sekedar mengikuti ritme tanpa membenah diri. Renungilah itu semua ditengah usiamu hari ini. . .

Kepada semua, terimakasih atas motivasi dan do’a terbaiknya.

Benteng Balangnipa, Sinjai, (30 Mei 2022)




 

Rabu, 11 Mei 2022

Setelah Megister, Tulisan Ini Kupersembahkan Kepada Orangtua dan Guruku


Oleh: Muh Ikhwan 

Kepada kedua orang tuaku yang tiada sebanding olehya dengan perjuangan serta do’anya kepadaku. Belum sampai daku harus membalasnya dengan cara apa dan bagaimana. Saya bisa jadi apa yang sekarang karena orang tuaku yang sangat luar biasa mendidik dalam diam. Namanya adalah Tajuddin dan Harlina, mereka adalah petani yang sederhana. Saya bangga terlahir dari orang tua dan keluarga yang sederhana. Karena kesederhanaan itu membuat saya termotivasi untuk bangkit dan berusaha mandiri. Karena kesederhanan itu, diluar sana ketika saya menempuh pendidikan, saya tetap menjadi saya yang terbiasa dengan pola hidup sederhana atas didikannya. Karena kesederhanaan itu, saya tidak perlu malu dan gengsi dalam hidup. Inilah yang membuat saya belajar tentang nilai kemandirian, tidak pada ketergantungan materi. Namun tetap bergantung pada nilai moril yang begitu berarti.

Dari sejumlah tokoh pemikir dan pergerakan yang menginspirasiku, orang tuaku adalah tokoh utamanya. Ia sempat berpikir dan bergerak karenaku. Walaupun keduanya bukan siapa-siapa dimata orang lain, pikiran dan gerakanya tidak dirasakan oleh siapapun. Namun ia adalah tokoh yang mewarnai ekstalasi kehidupanku hari ini. Darahnya mengalir dalam tubuhku. Sebabnya, saya menjadi kuat dengan segala terpaan. Atas segala kasihmu kepadaku, baktiku belum mampu kutunaikan atas segala jasamu. Belum lagi kehadiranku adalah beban pikiranmu, tingkahku yang membuatmu kecewa dan sakit hati karenaku. Maafku, hanya ini yang mampu kupersembahkan sampai hari ini, Predikat Pendidikan Magister. Yang setahuku, kuliah S1 saja pun sempat kau ragukan karena segala kesederhanaan dan keterbatasan hidup. Inilah kejutan semesta kupersembahkan. Terimakasih tak terhingga. 

Kepada Guruku, dengan segala keterbatasan dan kemampuan mereka mendidiku diwaktu sekolah atas tingkah lakuku, paling nakal, dongo’, dan paling tidak patuh pada aturan sekolah. Saya dikenal bukan karena pintar, cerdas, atau prestasi akademik. Namun karena predikat kenakalan. Semua guru dan teman-teman ku tahu siapa aku sejak itu. 

Guruku, kau tetap sabar dan Ikhlas mendidik serta mendo’akan ku. Terimakasih atas segala jasa-jasamu. Hari ini telah kupersembahkan gelar akademik dalam kurun waktu 3 tahun 6 bulan (S1), dan 1 tahun 8 bulan (S2), ini semua karena berkat jasamu. Tanpamu, yang dulu memperkenalku satu huruf lalu mendikteku dibangku sekolah. Lewat itu, saya terlatih menulis dan mampu berkarya lewat tulisan. Apapun jenis tulisan, Jurnal, Skripsi, Tesis (karya ilmiah), news, opini, dan sebagainya mampu saya tulis karena pernah dengan terpaksa menulis pada buku catatan walaupun sebenarnya sejak itu saya menulis dalam keadaan penuh keterpaksaaan dan perasaan bosan. 

Guruku, saya tetap muridmu. Tidak ada alasan apapun untuk kau tetap mengakui dan memanggilku sebagai siswa atau anak didikanmu. Tetap beriku nasehat, didik aku dengan caramu, ingatkan kan aku agar tetap belajar. 

Motto Hidup: Perjuanganku adalah Motivasiku. (30 Juli 2021) 
Tulisan ini saya tulis satu tahun sebelum selesai S2 Pascasarjana UIN Alauddin Makassar. (Gowa, 12/05/2022)

Sabtu, 09 Januari 2021

Muh. Ikhwan: Makalah Komunikasi Islam (Ulama dan Krisis Komunikasi Politik)

 

 

Makalah Komunikasi Islam

(Ulama dan Krisis Komunikasi Politik)

 

 

 


 

Oleh:

MUH. IKHWAN

80800220001

 

Tugas

 

Mata Kuliah Komunikasi Islam Program Study Komunikasi dan Penyiaran Islam Pascasarjana

UIN Alauddin Makassar

 2021

 

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar belakang masalah

Era reformasi menghembuskan angin segar bagi umat Islam untuk mengambil peran dalam politik Islam, dimana selama orde baru keinginan berpolitik terbelenggu dan tidak diberi ruang kebebasan. Besarnya keinginan berpolitik umat islam itu dapat dibuktikan dengan banyaknya bermuculan kyai/ulama/ustadz, tokoh agama, dan kaum cendekiawan, baik dengan mengedepankan symbol-simbol Islam maupun nasionalisem kebangsaan.

Pernyataan diatas didukung oleh Fatwa, bahwa alam reformasi telah melahirkan beberapa partai politik baik yang berlebel agama maupun non agama.[1] Keberadaan parpol dianggap merupakan institus demokrasi yang berfungsi menyerap dan mengartikulasikan aspirasi masyarakat dan media penyaluran pendapat yang terjadi dimasyarakat.

Politik juga menjadi wadah startegis untuk merumuskan serta menentukan kebijakan suatu kekuasan. Persoalan siapa yang pemegang penentuan kebijakan sangat ditentukan oleh siapa yang berkuasa. Kekuasan itulah yang kerap kali menjadi alat pertarungan partai politik, apakah partai politik yang lahir sebelum dan pasca reformasi.

Namun perkembangan politik hari ini telah banyak memberi warna pada struktur kehidupan masyarakat. Terutama pada dinamika politik Islam, terdapat krisis multidemnsi secara internal persoalan keterlibatan elit agama dalam kancah politik. Mereka para elit agama telah mendaptkan ruang aspirasi politik namun tidak mampu mewarnai bangunan struktur kehidupan politk kenegaraan. Sehingga yang terjadi krisis moral politik dinegara kita masih tumbuh subur, praktik korupsi dan sebaganiya masih menjadi tradisi kebangsaan hari ini.

Sehingga pada makalah ini, kita akan mencoba membahas bagaimana peran-peran ulama dan krisis komunikasi politik, yang disertai kasus-kasus yang tengah berkembang dalam system politik kita di Indonesia.

 

 

 

A.    Rumusan Masalah

1.    Bagaimana posisi agama dalam politik?

2.    Bagaimana Keterlibatan Ulama dalam Politik?

B.     Tujuan

1.      Untuk mengetahui posisi agama dalam politik

2.      Untuk mengetahui Keterlibatan Ulama dalam Politik

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

A.  A.   Agama dan politik

Berbicara agama (Islam) kaitannya dengan politik, menjadi hal yang menarik untuk dikaji. Islam adalah agama yang tidak memisahkan urusan duniwiyah dan ukhrawiyah. Islam adalah agama yang mengajarkan nilai-nilai kebenaran, keadilan, kejujuran, santun, isiqomah, terbuka, dan lain sebagainya. Nilai-nilai tersebut harus dijunjung tinggi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.[2]

Untuk menjadikan nilai-nilai luhur yang diajakrkan agama dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, maka umat Islam perlu mengambil bagian dalam system kenegaraaan, dan aktivitas politik di negri ini. Untuk itu kehadiran Kiyai, Ustadz, ulama sebagai tokoh agama diharapkan dapat memberikan warna, kesejukan, sebagai tempat meminta petua/nasihat serta mampu berfungsi menjadi teladan dan menjadi benteng moral bagi masyarakat dan pemerintah. Kehadiran kiya dipentas politik juga bisa bermakna positif, sepanjang tetap istiqomah dalam pendiriannya, yaitu dengan keteladanan moral yang dimili, diharapkan dapat mewarnai kehidupan politik kearah yang lebih baik, terhormat dan  bermartabat.[3] 

Ajaran agama menekankan keimanan, ritual peribadatan, dan moralitas. Sedangkan politik menekankan aturan main dalam perebutan dan pembagian kekuasaan dalam konteks kehidupan bernegara. Kedua aspek ini pada praktiknya menyatu. Terlebih dalam ajaran dan sejarah Islam, agama dan politik sejak masa Rasulullah sampai sekarang tak terpisahkan.[4]

Ini berbeda dari ajaran Kristen yang memisahkan antara hak gereja dan negara. Maka, dalam masyarakat Kristiani di Barat terjadi pemisahan jelas antara agama dan negara. Agama itu urusan pribadi. Negara tidak boleh intervensi. Negara melindungi dan mengatur seseorang sebagai warga negara, bukan penggembala umat yang beriman.

Jika ditarik pada sosok pembawanya, riwayat hidup Yesus dan Muhammad memang berbeda. Yesus diyakini kalah dan mati di tiang salib, sekalipun dalam tafsir iman Kristiani justru sebuah kemenangan bagi Yesus untuk mengalahkan dosa-dosa manusia sehingga Yesus disebut Juru Selamat dan Sang Penebus.

Sedangkan Muhammad justru mewariskan komunitas politik di Madinah. Jadi, ingatan kolektif umat Islam dan Kristen mengenai agama dan politik memang berbeda. Peran sosial politik yang dicontohkan oleh Yesus dan Muhammad tidaklah sama. Maka, ketika berbicara tentang hubungan agama dan politik, umat Kristiani akan memilih teori sekularisme.

Agama jangan dibawa-bawa pada ranah politik. Agama cukup sebagai keyakinan hidup dan pedoman moral, baik dalam ranah individu maupun sosial. Namun, ini tidak berarti agama tidak memiliki pengaruh dalam proses politik. Misalnya saja Amerika Serikat, meskipun pemerintahannya selalu membela demokrasi dan hak asasi manusia, masih tidak terbayangkan seorang Muslim bisa terpilih sebagai presiden di sana hari ini. Jangankan Islam, dari kalangan Katolik pun berat.

Jadi, kalau di Indonesia isu agama masih muncul, itu wajar-wajar saja. Pertama, penduduk mayoritas warganya adalah Muslim. Kedua, dalam sejarah Islam, hubungan agama dan politik itu senantiasa menyatu, sekalipun hal ini juga menimbulkan problem politik sangat serius yang belum selesai.

Penempatan Islam dalam wacana politik di Indonesia ternyata menghadirkan wacana yang berbeda-beda, yaitu: Pertama, kelompok yang memandang bhawa Islam adalah agama yang perfeksionis yang mencakup seluruh dimensi kehidupan urusan manusia. Masalah politik termasuk didalamnya. Kedua, kelompok yang berpendapat bahwa islam terlepas dari hal-hal yang bersifat duniwiyah. Islam harus dijaga kemurniannya dari kemungkinan kontaminasi unsuru-unsur duniawiyah. Masalah politik adalah duniawiyah diluar pagar agama, dan oleh karena itu harus dijauhkan keduanya.

Ketiga, kelompok yang berpandangan diantara kedua pandangan bahwa islam tidak memberikan rumusan baku mengenai system poltik kenegaraan, akan tetapi menyediakan seperangkat tata nilai sebagai landasan etik bagi kehidupan berpolitk dan bernegara.[5]

Dari ketiga pemahaman itulah lahir berbagai bentuk artikulasi dan agrregasi politik yang berbeda-beda, bahkan bertentangan. Kelompok pertama menekankan pada kaitan formal ideologi islam dengan negara (politik), kelompok kedua, membuat garis demokrasi yang tajam antara Islam da Politik. Kelompok ketiga, mengukuhkan ajaran/ nilai-nilai dalam realitas politik dan negara.

B.     Keterlibatan Kyai/ulama dalam politik.

1.      Kyai dan perannya di Msyarakat

Sebutan kyai sebenrnya merupakan istilah yag sering dipakai oleh kalangan masyarakat jawa untuk menyebut elit agama Islam, seperti halnya Buya sebutan elit agama di Sumatera. Dalam kamus besar bahsa Indonesia, kyai sebutan bagi alim ulama (cerdik pandai dalam agama islam).[6] Sarman,[7] menyatakan, seorang kyai sebenarnya seorang ulama (Ilmuan) yang menguasai sesuati bidang ilmu agama atau beberapa bidang sekaligus. Tetapi tidak semua ulama lantas disebut dengan kyai.

            Quraish Shihab, menyebutkan bahwa, peran ulama di Indoensia, khususnya di Jawa Timur biasa disebut atau identic dengan kyai; memberiakan petunjuk dan bimbingan keagamaan dalam rangka mengatasi persoalan yang berkembang, seperti perselisahan pendapat dan problem sosial lainnya.[8]

            Menurut Abdillah, ulama memiliki kedudukan yang tinggi dan peran penting krena mereka merupakan pewaris para Nabi yang mempunyai tugas untuk: Pertama, mendidik umat dibidang agama dan lainnya. Kedua, melakukan kontrolo terhadap masyarakat. Ketiga , memecahkan problem yang terjadi dalam masyarakat, dan. Empat, menjadi agen perubahan sosial.[9]

2.      Keterlibatan kyai dalam politik

Sejak awal higga perkembangan terakhir, politik memiliki defenisi yang berbeda-beda menurut cara pandang orang yang menggunakan istilah tersbut. Menurut Mufid, politik adalah segala usaha yang berkaitan dengan kekuasaan baik cara memperoleh, mendistribusikan, maupun cara mempertahankannya.[10] Sedangkan dalam pendangan klasik yang telah dikemukakan oleh Aristoteles, politik dilihat sebagai suatu asosiasi warga negara yang berfungsi membicarakan dan menyelanggarakan hal ihwal yang menyangkut kebaikan Bersama seluruh anggota masyarakat.[11]

Untuk memaparkan keterlibatan kyai dalam politik, paling tidak kita dapat merujuk pendapat Suprayogo dari prespektif sosiologis, yaitu; Pertama, bahwa sumber ajaran Islam yang selalu dijadikan sebagai rujukan oleh para elit agama, dipahami tidak memiliki lingkup tak terbatas pada aspek-aspek ritual dan bimbingan moral belaka, melainkan juga memberikan nilai-nilai pada sisi kehidupan, baik dalam ilmu pengetahuan, ekonomi, hukum, sosial dan juga politik. Kedua, memerka yang berposisi sebagai pemuka agama memiliki pengikut dan pengaruh yang sangat luas ditengah-tengah masyarakat. Hal itu menyebabkan elit agama dierhitungkan dalam pengambilan keputusan Bersama, proses kepemimpinan, penyelesaian priblem-problem. Ketiga, elit agama merasa mengembang misi yang hal ini memerlukan dukungan penguasa baik yang bersifat material maupun immaterial. Keempat, elit agama juga berfungsi sebagai kekuatan yang dapat memberikan legitimasi terhadap keputusan-keputusan dan bahkan keberadaan penguasa.[12]

Kini kini politik Islam memasuki fase baru yang ditandai dengan tampilnya para intelektual Islam kepanggung politik praktis sebagai pimpinan partai politik. Sebagai cendikiawan kinerja mereka sangat meyakinkan, tetapi sebagai politisi masih perlu dibuktikan. Para kyai/ulama/ ustadz, tokoh agama, dan kaum cendikiawan, mereka terjun aktif dalam partai politik. Ada yang bergabung di Paratai keadilan Sejahtera (PKS), Partai Bulan Bintang (PBB), Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Partai  Amanat Nasional (PAN), Paratai Persatuan Pembangunan (PPP) dan partai lainnya.

Para Kyai/Ulama/ Ustadz, merupakan sosok panutan, figure moral, dan orang yang memiliki wawasan keagamaan yang luas. Dengan demikian diharapakan dapat membimbing umat dan menjadi benteng moral dalam kehidupan masyarakatnya. Oleh karena itu, dengan hadirnya sosok kyai/ulama dalam panggung politik, diharapkan dunia politik lebih bermoral, mementingkan kepentingan rakayat serta minjung tinggi nilai-nilai keadilan dan kemanusiaan. Seperti yang dikemukakan oleh Al- Faruki, bahwa diri ulama adalah symbol dari pada etika dan moral politik. Keterlibatan ulama dam kancah politik harus bisa memberi sumbangsi yang besar demi terciptanya bangunan struktur politik yang bermoral. Moral yang betul-betul hidup danbukan sekedar slogan politik.

Selain itu, ada juga yang berpendapat bahwa ulama lebih strategis diluar parpol. Peran utamanya ialah menjaga kantong-kantong kultur untuk tetap netral secara politik dan konsisten dengan visinya sebagai pilar masyarakat madani. [13] keberadaan kyai/ulama/ ustadz dlam kancah politik sampai saat imi memang masih perdebatkan oleh Sebagian kalangan. Ada yang berpedapat bahwa mereka para elit agama cukup berperang sebagai pengayom umat, terutama dalam pembinaan agama.

Ada pula yang berpendapat sebaliknya, tidak alasan bagi kyai/ulama/ ustadz untuk meninggalkan politik praktis, sebab berpolitik merupakan bagian dari ajaran agama. Oleh karena hampir setiap pelaksanaan pemilu, baik pemilhan legislative, DPR, Pemilihan kepala daerah Bupati, Gubernur, sebagaian besar mereka para elit agama yang menjadi terlibat dalam kegiatan kampanye dan pencitraan positif calon yang didukungnya dengan dalih demi kemaslhatan umat.

Contoj konkrit dalam hal ini adalah Kyai Ma’ruf Amin sebagai Wakil Persiden RI 2020-2025 yang sebelumnya adalah Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat.  Serta wakil Guberur Bengkulu “ H. Syamlan, Lc” yang sebelumnya sekretaris umum majelis ulama Indonesia (MUI) Provinsi Bengkulu.

Banyak lagi elit-elit agama yang ikut andil dalam kancah politik, diharapkan keterlibatan mereka mampu mewarnai dan memberikan pengaruh terhadap kebijkan pemerintah yang berorientasi pada kepentingan rakyat.

Berpijak pada realitas dilapangan, berbagai kasus-kasus elit agama yang terlibat dalam ranah politik , perlu kiranya membangun sebuah kerangka dan bentuk pemberdayaan kyai/ulama/utadz yang akan menggeulti dunia politik sehingga dapat memebri warna dan teladan dalam pendewasaan politik umat. Agar kedepan tidak terjadi krisis multidemnisi pada aspek politik Islam.

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

A.    Kesimpulan

1.      Ajaran agama menekankan keimanan, ritual peribadatan, dan moralitas. Sedangkan politik menekankan aturan main dalam perebutan dan pembagian kekuasaan dalam konteks kehidupan bernegara. Kedua aspek ini pada praktiknya menyatu. Terlebih dalam ajaran dan sejarah Islam, agama dan politik sejak masa Rasulullah sampai sekarang tak terpisahkan

2.      Para Kyai/Ulama/ Ustadz, merupakan sosok panutan, figure moral, dan orang yang memiliki wawasan keagamaan yang luas. Dengan demikian diharapakan dapat membimbing umat dan menjadi benteng moral dalam kehidupan masyarakatnya. Oleh karena itu, dengan hadirnya sosok kyai/ulama dalam panggung politik, diharapkan dunia politik lebih bermoral, mementingkan kepentingan rakayat serta minjung tinggi nilai-nilai keadilan dan kemanusiaan

B.     Saran

Pada makalah ini masih terdapat begitu banyak kekurangan, terutama pada sistematika penyusunan redaksi kata dan metodologi penulisan makalah secara Ilmia. Oleh sebab itu, saya berharap saran dan kritikan yang membangun untuk penyusunan makalah untuk kemudian hari.

 



[1] Abdul Mu’nim, Islam ditengah Arus Transisi, (Jakarta; Kompas, 2000), hal. 120.

[2]Ujang Mahadi, Komunikasi Antar Budaya.(Jakarta; Pustaka Pelajar), hal.146

[3] Ruslani, Politik Islam di Tengah Pluralisme Politik, dalam Abdul Mu’nim D.Z. (edt). Islam ditengah arus Transisi. (Jakarta: Kompas), hal. 138

[4] https://geotimes.co.id/kolom/politik/agama-dan-politik, diakses pada tgl, 05 Januari 2021.

[5]Ujang Mahadi, Komunikasi Antar Budaya.(Jakarta; Pustaka Pelajar), hal.149

[6] Pusat Bahasa Depertemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Cet 2. (Jakarta: Balai Pustaka, 2002), Hal. 565.

[7] Mukhtar Sarman, Jagat Kyai (Jakarta; Harian Kompas, 1999), Hal. 264.

[8] Quraish Shihab, Melampau Dialog Agama,( Jakarta; Kompas 2002), Hal. 94.

[9] Masykuri Abdillah, Ulama Dan Politik, ( Jakarta; Kompas, 2000), Hal. 162.

[10] Ahmad Syafi’i Mufid, Penggunaan Simbil-Simbol Keagamaan Untuk Kepentingan Politik, Jurnal, Vol.III, No. 12, Oktober 2004.

[11] Ramlan Surbakti, Memahami Ilmu Politik, (Jakarta; Grasindo, 1992), Hal. 2.

[12] Imam Suprayogo. Telaah Atas Realitas Peran Politik Kini Dan Yang Akan Datang, Uin Malang Press. Hal. 140

[13] M. Deden Ridwan, Perubahan Politik Dan Kebangkitan Peran Umat Islam, ( Jakarta; Media Cipta,20000,Hal.233.

Optimis Bangun Ekosistem Pertanian

Kemarin (19/07/24) saya bersama petani Milenial Tombolo Pao, Gowa, dalam kegiatan star up program YESS 2024 di BPP Kanreapia. Berbagai infor...