Senin, 22 Juli 2024
Optimis Bangun Ekosistem Pertanian
Senin, 15 Juli 2024
Camp Produktif Peserta Local Champion di Malino
Minggu, 01 Januari 2023
Lakukan Hal Berbeda
Tahun lalu beberapa hal capaian-capain besar telah saya raih.
Beberapa hal saya sudah lewati. Tahun ini saya akan lebih focus pada hal-hal
penting yang lebih bermakna.
Hari esok saya yakin tantangannya akan lebih besar
dibandingkan tahun kemarin. Jika hari ini kita menuntut perubahan maka lakukan
sesuatu yang berbeda, tidak ada perubahan yang terjadi dengan cara biasa-biasa
saja. Kita butuh memeras pikiran dan tenaga untuk hal lebih untuk perubahan
itu.
Memang kita butuh waktu sesaat termenung memikirkan berbagai
peristiwa, bahwa terlalu banyak hal yang terjadi begitu saja tanpa makna. Terutama
tentang waktu yang terbuang begitu saja. Kemarin, hari ini, menit dan sampai
detik ini, apa yang sudah anda perbuat? Mengapa kita biarkan beralu begitu saja.
Ayo kita lakukan hal baru, buat loncatan baru. Lakukan hal berbeda dengan hari kemarin.
Luar Biasa, Santri Pesantren Muhammadiyah Balassuka Meraih Juara Pada Kegiatan Kemah Tahfidz Pesantren Muhammadiyah Sulsel
Jumat, 16 Desember 2022
Pulau Sembilan, Spot Wisata Eksotis Menyimpan Nuansa Ketenangan
Kemarin saya mengunjungi pulau Sembilan, Kab. Sinjai bersama dengan teman-teman Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Kab. Sinjai. Bagi saya Ini merupakan agenda refresing setelah mengikuti pelantikan dan rakerpim DPD IMM Sulsel di Kota Pare-pare pada akhir bulan lalu, kemudian bertugas menjadi instruktur IMM di Kab. Bulukumba dan Kab. Sinjai Kurang lebih dua pekan secara berturut-turut.
Ini yang pertama kalinya saya berkunjung
di Pulau yang berada di Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan. Untuk sampai pada salah satu pulau Sembilan, kami
difasilitasi oleh Immawan Aqram (PC IMM Sinjai) menggunakan kapal milik
bapaknya di pelabuhan Cappa Ujung. Untuk sampai di Pulau Sembilan ada dua
pilihan bisa ditempuh, kapal penumpang yang
menempuh jarak kurang lebih 60 menit dan speed boat kurang lebih 20
menit perjalanan.
Bagi saya yang lahir dan besar dipegunungan, ini merupakan
hal baru. Walaupun sebenarnya sudah pernah naik kapal laut beberapa tahun lalu,
tapi nuansa dan momentnya agak berbeda. Ditengah laut, saya menikmati
pemandangan yang indah, dari jarak kejauhan saya menyaksikan gunung-gunung
berjejeran di daerah Bone, Bulukumba, serta pegunungan yang ada ditempat saya Kab.
Gowa. Daerah tetangga dengan Kab. Sinjai. Maha besar Tuhan dengan segala
ciptaannya.
Setelah kurang lebih 60 menit perjalanan, kami tiba dikawasan
pulau Sembilan. Namanya pulau Kanalo II Desa Persatuan. Kebutulan ada salah
satu senior IMM Sinjai yang tinggal di Pulau ini, disinilah kami istrahat dan
bermalam. Pulau yang tenang, jauh dari suara kendaraan yang ribut seperti
halnya di Kota. Disini tidak satupun kendaraan (motor dan mobil) yang lalu Lalang.
Anda mungkin bisa membayangkan bagaimana nuansanya yah. Untuk berkunjung kerumah
tetangga dan dermaga, cukup dengan jalan kaki. Masyarakat disini adalah
mayoritas nelayan, sumber kehidupannya ada pada laut. Ada juga Instansi
pemerintahan (kantor desa), beberapa pelaku UMKM. Untuk kebutuhan hidup seperti
beras dan kebutuhan hidup lainnya sumbernya dari Kota yang dibawa oleh kapal laut
dengan waktu tertentu.
Pulau Sembilan ini merupakan salah satu kecamatan di Kab. Sinjai, yang terdiri dari empat Desa, yakni Desa Buhung Pitue, Desa Pulau Harapan, Desa Padaelo, dan Desa Pulau Persatuan. Sesuai namanya, Pulau Sembilan Sinjai terdiri atas sembilan pulau. Pulau Sembilan ini memiliki nama lain, diantaranya adalah pulau Kanalo I, Pulau Kanalo II, Pulau Larearea, Pulau Kodingare, Pulau Batanglampe, Pulau Katingodang, Pulau Liang Liang, Pulau Kambuno, dan juga Pulau Burunglo’e.
Pulau Larearea salah satu pulau yang kami kunjungi , ini
adalah satu pulau yang tidak
berpenghuni. Pulau ini memiliki air yang jernih,
pasir putih dan tentunya pemandangan pantai yang eksotis. Ada berbagai
spot wisata yang bisa menjadi pilihan saat mengunjungi Pulau ini. Nuansanya
begitu tenang. Saya begtu menikmati perjalanan ini. Walapun tidak semua pulau saya
kunjungi, namun saya yakin bahwa disetip pulau punya keanekaragaman yang tidak
kalah menarik. Yang pasti, tidak sekedar refresing. Namun ada hal-hal baru dan
pelajaran yang berarti yang saya temukan. Gowa, 16/12/2022.
Senin, 30 Mei 2022
Bukan Tentang Usia Yang Sekian Lama, Tapi Tentang Kualitas Diri Seperti Apa Ia Berkontribusi dan Bermanfaat
Milad saya pada hari ini, usia 26 tahun. Merupakan sebuah
renungan tentang waktu yang telah berlalu sekian lama. Terlalu banyak kemudian
fase hidup yang telah dilalui dengan berbagai dinamikinya. Yang pasti, saya
menyadari bahwa bertambahnya usia berarti jatah hidup yang diberikan oleh Tuhan
pun semakin berkurang. Ia bagaikan tali yang ditarik, semakin ia ditarik maka
ia semakin berkurang.
Ketika saya kembali merenungi roda kehidupan yang ku lalui,
saya ternyata belum mampu mengenali siapa diriku yang sebenarnya, saya belum begitu
berarti, sosok saya belum bisa berbuat yang terbaik kepada kedua orang tuaku,
guru dan sahabat-sahabatku.
Saya yakin bahwa sejak masih dalam kandungan Ibuku, kedua
orang tua ku sangat mendambakan dan merindukan kelahiranku. Mereka pasti sangat
bahagia ketika saya lahir dalam keadaan sehat, normal, dan selamat. Baginya,
saya adalah mutiara baru yang lahir mendamaikan hatinya dihari itu. Saya
berharap dambaan tentang sosok diriku yang lahir dan tumbuh dewasa adalah
sesuatu yang mendamaikan keluargaku hari ini seperti ketika saya dilahirkan dua
pulu tahun silam. Upayahku adalah menjadi anak yang berbakti, berakidah yang
baik, serta mampu bermanfaat kepada sesama.
Jadi bukan tentang usiaku yang sekian lama, tetapi tentang
kualitas diri yang sejauh mana ia berkontribusi dan bermanfaat. Dan diriku yang
ternyata masih “biasa saja”, sekedar mengikuti ritme tanpa membenah diri. Renungilah
itu semua ditengah usiamu hari ini. . .
Kepada semua, terimakasih atas motivasi dan do’a terbaiknya.
Benteng Balangnipa, Sinjai, (30 Mei 2022)
Minggu, 15 Maret 2020
Bocah Pejuang Subuh, Inspirasi Bagi Muslim Dewasa
Hingga tiga bulan terakhir, hampir setiap subuh saya menyaksikan bocah-bocah berteriak memanggil kawan yang lainnya berbondong-bondong ke Masjid Nurul Amin Bentengia. Sauqi, Oga, Ogi, Agus, Wandi, Ansar dan Tasya, anak sekolah yang masih berada di sekolah dasar (SD), mereka adalah bocah pelawan subuh.
Jarak antara rumah terbilang jauh, kurang lebih lima ratus meter. Ukuran Kampung menurut saya termasuk jauh. Mereka jalan sambil berteriak memaangggil kawan sebayanya. Dikampung saya (Balassuka,Gowa) antara rumah satu dengan yang lain begitu berjauhan, tidak jarang seusia mereka bahkan orang dewasa sekalipun takut melintasi setiap jalan dikarena sepih dan gelap.
Seusia mereka (Muslim), pemahaman tentang Kewajiban mendirikan Shalat sebagai ritual kepada sang Khalik, keutamaan shalat berjamaah di Masjid bisa dibilang masih sangat minim. Kesadaran religiutas sesungguhnya masih mengawan, dibandingkan muslim dewasa yang pada hakekatnya lebih dituntut memiliki kesadaran religiutas dibandingkan bocah-bocah.
Ditempat-tempat lain, sangat jarang seusia mereka mau dan berani melawan subuh. Ada banyak, namun hanya ditemukan ditempat tertentu sebutlah pesantren.
Mereka hadir di Masjid tanpa pengawalan orang tua, padahal orang tua mesti hadir menuntut dan mengawal anak-anaknya ikut berjamaah di Masjid. Salah seorang bocah pernah saya tanya, boacah yang paling tua diantara mereka, siapa kasi bangun? dia bilang Bapak. Kalau yang lain, siapa? Saya mendengar teriakan teman, kemudian saya bangun dan diikut dengan mereka, ungkap sibocah.
Berteriak seperti halnya jika bulan ramadhan (teriakan sahur), sampai akhirnya bocah yang mendengar teriakan ikut dan sama-sama jalan menuju Masjid dengan jarak kurang lebih lima ratus meter.
Antara rumah saya dengan mereka berdekatan, sayapun biasa dengar teriakannya. Kadang saya sudah bangun mereka berteriak, kadang juga belum. Kadang mereka lebih duluan sampai. Karena saya pake kendaraan, biasa saya temani dengan penerangan kendaraan ditengah kegelapan jalan. Salah satu diantara mereka kemudian Adzan jika waktu subuh telah tiba.
Mereka adalah bocah pelawan subuh, sesungguhnya inspiratif bagi muslim dewasa. Kesadaran religiutas mesti harus terbangun, paling tidak orang tua sebagai kiblat bagi anaknya. Jika anak shalat dirumah mesti orang tua shalat di Masjid, atau sekalian sama-sama berjamaah di Masjid.
Melawan subuh memang berat, semua orang termasuk muslim sudah bisa merasakan seperti apa. Padahal Jika diketahui keutamannya sangat luar biasa, Rasulullah Saw. membandingkan Shalat subuh berjamaah lebih baik dari pada dunia dan seisinya.
Wassalam, Ikhwan (Pukul 05.30 AM)
Optimis Bangun Ekosistem Pertanian
Kemarin (19/07/24) saya bersama petani Milenial Tombolo Pao, Gowa, dalam kegiatan star up program YESS 2024 di BPP Kanreapia. Berbagai infor...
-
Feature. Sejak tahun 1987 sekitar tiga puluh tahun lalu pasca didirikannya amal usaha Muhammadiyah dibidang pendidikan di Balassuka . Per...
-
Sedang diatas kapal, menuju pulau sembilan Kemarin saya mengunjungi pulau Sembilan, Kab. Sinjai bersama dengan teman-teman Ikatan Mahasiswa ...
-
Kemarin (19/07/24) saya bersama petani Milenial Tombolo Pao, Gowa, dalam kegiatan star up program YESS 2024 di BPP Kanreapia. Berbagai infor...








.jpg)
