Senin, 27 April 2020
Saat Bulan Puasa. Tidur Pagi, Apakah Hanya Pembiasaan.
Jumat, 24 April 2020
Tarawih Ramdhan, Antara Kepatuhan dan Ketidak Patuhan Terhadap Himbauan
Minggu, 15 Maret 2020
Bocah Pejuang Subuh, Inspirasi Bagi Muslim Dewasa
Hingga tiga bulan terakhir, hampir setiap subuh saya menyaksikan bocah-bocah berteriak memanggil kawan yang lainnya berbondong-bondong ke Masjid Nurul Amin Bentengia. Sauqi, Oga, Ogi, Agus, Wandi, Ansar dan Tasya, anak sekolah yang masih berada di sekolah dasar (SD), mereka adalah bocah pelawan subuh.
Jarak antara rumah terbilang jauh, kurang lebih lima ratus meter. Ukuran Kampung menurut saya termasuk jauh. Mereka jalan sambil berteriak memaangggil kawan sebayanya. Dikampung saya (Balassuka,Gowa) antara rumah satu dengan yang lain begitu berjauhan, tidak jarang seusia mereka bahkan orang dewasa sekalipun takut melintasi setiap jalan dikarena sepih dan gelap.
Seusia mereka (Muslim), pemahaman tentang Kewajiban mendirikan Shalat sebagai ritual kepada sang Khalik, keutamaan shalat berjamaah di Masjid bisa dibilang masih sangat minim. Kesadaran religiutas sesungguhnya masih mengawan, dibandingkan muslim dewasa yang pada hakekatnya lebih dituntut memiliki kesadaran religiutas dibandingkan bocah-bocah.
Ditempat-tempat lain, sangat jarang seusia mereka mau dan berani melawan subuh. Ada banyak, namun hanya ditemukan ditempat tertentu sebutlah pesantren.
Mereka hadir di Masjid tanpa pengawalan orang tua, padahal orang tua mesti hadir menuntut dan mengawal anak-anaknya ikut berjamaah di Masjid. Salah seorang bocah pernah saya tanya, boacah yang paling tua diantara mereka, siapa kasi bangun? dia bilang Bapak. Kalau yang lain, siapa? Saya mendengar teriakan teman, kemudian saya bangun dan diikut dengan mereka, ungkap sibocah.
Berteriak seperti halnya jika bulan ramadhan (teriakan sahur), sampai akhirnya bocah yang mendengar teriakan ikut dan sama-sama jalan menuju Masjid dengan jarak kurang lebih lima ratus meter.
Antara rumah saya dengan mereka berdekatan, sayapun biasa dengar teriakannya. Kadang saya sudah bangun mereka berteriak, kadang juga belum. Kadang mereka lebih duluan sampai. Karena saya pake kendaraan, biasa saya temani dengan penerangan kendaraan ditengah kegelapan jalan. Salah satu diantara mereka kemudian Adzan jika waktu subuh telah tiba.
Mereka adalah bocah pelawan subuh, sesungguhnya inspiratif bagi muslim dewasa. Kesadaran religiutas mesti harus terbangun, paling tidak orang tua sebagai kiblat bagi anaknya. Jika anak shalat dirumah mesti orang tua shalat di Masjid, atau sekalian sama-sama berjamaah di Masjid.
Melawan subuh memang berat, semua orang termasuk muslim sudah bisa merasakan seperti apa. Padahal Jika diketahui keutamannya sangat luar biasa, Rasulullah Saw. membandingkan Shalat subuh berjamaah lebih baik dari pada dunia dan seisinya.
Wassalam, Ikhwan (Pukul 05.30 AM)
Selasa, 03 Maret 2020
Bedah buku season l, IPM Balassuka (Memahami Ideologi Muhammadiyah, HNS/2014)
Bedah Buku Season lll, IPM Balassuka (Memahami Ideologi Muhammadiyah,HNS/2014)
Minggu, 05 Januari 2020
Gerakan Musiman Dalam Muhammadiyah
(Opinews)
Oleh : Muh. Ikhwan, (Aktivis IMM Cab. Gowa, PRM Balassuka)
Alhamdulillah jika makin banyak orang yang mau terlibat dengan program-program Muhammadiyah, terutama jika keterlibatan mereka memang ingin menyumbangkan Ilmu dan berbagai keahlian yang dimiliki. Muhammadiyah berterimakasih dengan adanya orang-orang seperti itu.
Keterlibatan mereka dalam program Muhammadiyah merupakan salah satu pokok bagaimana kemudian organisasi ini akan terlihat lebih dinamis tidak statis.
Menurut Ayahanda Prof.Dr. Haedar Nashir, M.Si (Ketum PPM), Muhammadiyah memiliki problem orientasi salah satunya karena adanya aktivis semata-mata berorientasi profesional atau proyek belaka, intinya ada uang ada jasa".
Konsep profesional dalam bermuhammadiyah tidak parsial hanya didasarkan pada prinsip ada uang ada jasa seperti yang diungkapkan diatas. Profesional juga bukan semata-mata menuju pada keahlian semata karena pengabdian disalah satu amal usaha. Menjadi seorang guru, tenaga medis dalam amal usaha membutuhkan keahlian atau ilmu dalam bekerja, mereka bekerja karena profesi dan keahlian.
Prinsip profesionalitas bermuhammadiyah tanpa diiringi dengan nilai-nilai ideologis akan melahirkan gerakan musiman dalam Muhammadiyah, gerakannnya dadakan dan tiba-tiba. Saya terbiasa merenung dan menyaksikan banyak dikalangan orang Muhammadiyah yang tidak sadar menjadikan organisasi ini layaknya seperti proyek yang memang urusannya adalah uang. Hitung-hitungan keahlian, dan pengabdian lalu kemudian menunggu hasil sesaat. Nanti bergerak jika ada imbalan.
Mereka tidak mau tahu dengan urusan-urusan, seluk- beluk organisasi yang secara universal menyentuh hajat orang banyak. Orientasi gerakan dan kultur Muhammadiyah yang telah terbangun teracuhkan. Mereka sering tidak memahami prinsip-prinsip, budaya, kebiasan-kebiasan dan mekanisme organisasi yang selama ini sebagai kekuatan dalam melakukan gerakan.
Gerakan musiman Muhammadiyah itu bersifat dadakan atau tiba-tiba. Tiba-tiba ingin bekerja, berjuang, berdakwah dalam bingkai organisasi. Kadangkala hilang dan seketika muncul, memiliki prinsip profesionalitas karena keahlian, ada uang ada jasa. Kata guru saya bermuhammadoe' (Ayahanda Abd.Hamid PRM Balassuka), Dalam istilah bugis Makassar Bermuhammadoe' adalah Bermuhammadiyah karena ada uang.
Orang bermuhammadoe' baginya adalah sekedar menggugurkan kewajiban sebagai tenaga profesional yang menjadikan uang adalah komponen pokok atau hal utama dalam setiap aktivitas Muhammadiyah. Padahal, ada komponen selain itu yang sangat fundamental yang harus ditanamkan pada setiap gerakan.
Kata Haedar Nashir (Dinamisasi Gerakan Muhammadiyah,Cet. 2015) "Bermuhammadiyah itu membutuhkan spirit, komitemen, tanggungjawab moralitas dan pengabdian yang menyatu pada prinsip ideologi gerakan".
Jika prinsip dan nilai ideologis terbangun kepada mereka yang hanya bergerak karena keahlian, musiman, profesi. Kemudian dengan dasar keikhlasan, paham mekanisme organisasi, in sha Allah problem Orientasi Muhammadiyah hari ini akan terbendung.
Karenanya siapapun mereka yang terlibat dalam aktivitas Muhammadiyah dituntut memahami ideologi, budaya dan sistem organisasi. Apakah dalam melaksankan program Muhammadiyah secara mandiri atau secara kerjasama.
Sistem organisasi mulai dari Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga sebagai pijakan utama dalam berbagai ketentuan yang dijalankan sejak didirikannya sampai sakarang. Sehingga sampai hari ini Muhammadiyah mampu berkiprah untuk kepentingan umat dan bangsa.
Namun, sekirnya masih dilakukan pembiaran gerakan musiman dalam bermuhammadiyah, hal ini justru akan melahirkan kemandekan, melemahkan dan membelokkan gerakan.
Fastabikul khaerat. Wassalam.
Gowa, 30/12/2019.
Minggu, 07 Juli 2019
Ingin Pemuda Berpartisipasi dalam Pembangunan Desa, Kepala Desa Balassuka Aktifkan Karang Taruna
Optimis Bangun Ekosistem Pertanian
Kemarin (19/07/24) saya bersama petani Milenial Tombolo Pao, Gowa, dalam kegiatan star up program YESS 2024 di BPP Kanreapia. Berbagai infor...
-
Feature. Sejak tahun 1987 sekitar tiga puluh tahun lalu pasca didirikannya amal usaha Muhammadiyah dibidang pendidikan di Balassuka . Per...
-
Sedang diatas kapal, menuju pulau sembilan Kemarin saya mengunjungi pulau Sembilan, Kab. Sinjai bersama dengan teman-teman Ikatan Mahasiswa ...
-
Oleh, Muh. Ikhwan Opini. Nuansa Ramdhan tahun ini 1441 H nampak berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Tahun lalu mungkin kita m...


